Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

Monday, February 16, 2015

Cinta Syuhada

pohon
Kubuka lembaran kabut yang masih terbenam di kala fajar. Aku mematung bersama jemari-jemari yang mengering. Di tanah ini, akan kutampahkan keringat sampai darah mengalir terhunus ribuan peluru, martir, bom molotop, dan apapun itu.

Lembayung kuning mengempis di masjid Al-Aqsa, tempat kiblat pertama umat muslim. “Bersiap, tentara Israel menyerang melalui tank!” seru Komondan Pasukan, Ahmed Al-Ghazali, lelaki setengah baya keturunan suku kurdi.

Kami langsung siap siaga dengan senapan dan peluru yang menyampai di badan kami. Israel bengis, yang telah menindas kaum muslim yang tak berdosa, merampas tanah-tanah para nabi, dan sekarang menbredeli masjid Al-Aqs hingga menjadi milik mereka sepenuhnya. Dulu masjid ini terbelah menjadi dua. Sebelah untuk ibadah kaum Yahudi, dan sebelah lagi untuk muslim.

“DOOORRR...DOOORRR...DOOORRR” suara tank israel menghantam persembunyian kami di bawah tanah. Aku tergopoh-gopoh meninggalkan terowongan yang mulai goncang.

Sekelebat aku berlari menuju sisa-sisa bangunan yang berserakan tak terautur akibat serangan Israel tempo hari. Kami menghadap masjid Al-Aqsa yang di kerumuni oleh tentara Israel. Meraka sudah menghancurkan sebagian sudut masjid Al-Aqsa dengan alat berat untuk dijadikan kuil Solomon, yang konon kuilnya nabi Sulaiman. kami tak bisa diam melihat kemungkaran di hadapan kami, yang telah merusak tempat hijrahnya Rasullulah Saw., salah satu tempat suci umat Islam.

“Tembak!!” suara komandan Ahmed menderu kencang. Kami langsung melaksanakan tugas.

Tembakan demi tembakan dilesatkan ke kerumunan tentara Irael. Dua orang tentara Israel terkapar di tanah dengan darah yang mengalir. Balasan dari Israel lebih ganas menyerang kami, persenjataan mereka lebih canggih, tapi kami tak gentar menegakan kalimat Tauhid. Kami ingin syuhada dan bertemu dengan para kekasihMu di syurga.

Aku merangsek maju ke depan, kutembak tentara israel yang bersembunyi di balik bongkahan bangunan. Tembakan itu menyarasar tepat dibahu salah seorang tentara Zionis, kelihatannya jatuh, dan nampak lagi. Mudah-mudahan dia tewas, karena tewasnya orang-orang Zionis itu tak sebanding dengan pembantaian umat islam di negeri-negeri muslim oleh tangan-tangan kafir yang tak suka dengan Islam. Temanku, Jaber, ikut merangsek kedepan.

“Allah selalu bersamamu Akhi” sergahnya sambil memegang bahuku
Syukran, semoga kita dalam lindungan Allah dan menempatkan kita dengan kekasihNya di surga kelak” timpalku dengan pelan
Kami tersenyum sesaat dan terus merangsek, memukul mundur israel yang makin kalap.
“Blaggg....” tempat di sebelah kami mengepul, bom jatuh dari udara, untung kami terhalang tembok yang cukup kokoh sehingga tak mengenai jaber dan aku.

Desingan bom dari kapal drone Israel menghantam kami, beberapa orang brigade  kami terkapar. Semoga mereka mati syahid dan menjadi syuhada. Kematian mereka membakar semangatku, membara.

Agaknya pertempuran ini lebih dahsyat dibandingkan dengan pertempuran Dunia ke dua, tiap hari kami harus angkat senjata ketika Israel mengusik dengan seenaknya. Dan negara inipun, Palestina, tinggal sepetak lagi. Israel telah merebut tanah kami dan membelah-belah setiap jengkal tanah menjadi tempat tinggal, pemukiman penduduk mereka.

Tembakan demi tembakan mendera kami bagaikan limpahan air. Terus menerus. Sementara peluru kami mulai menipis dan beberapa orang telah kehabisan peluru. Namun tak pasrah begitu saja, kami mengambil batu dan melemparkannya ke tank-tank Israel. Walau terlihat percuma, atas pertolongan Allah, satu tank Israel roboh berkeping-keping oleh hanya satu lemparan batu.

Di tanah ini, keajaiban bak menjadi kebiasaan. Kuasa Allah terlihat dengan mata telanjang, pernah satu ketika saat bulan ramadhan, kami bertempur dengan tentara Israel, keadaan kami sudah terjepit yang memaksa kami bersembunyi di antara puing-puing bangunan. Entah mengapa, saat digeledah tempat persembunyian kami oleh tentara Israel tak ada yang satupun tertangkap, padahal tentara Israel lalu lanlang disamping kami.

“Allahuakbar! Allahuakbar! Allahuakbar!” Jaber roboh, dadanya tertembak peluru. Kupegang tubuhnya erat.

Matanya telah sayu tapi mukanya menggambarkan kegembiraan. Kegimbiraan akan bertemu dengan pemilik jagat raya, yang telah memberikan cintaNya kepada kami dalam ikatan akidah. Lantunan Ayat Al-Quran mengalun membasahi bibirnya.

“Ucap syhadat, semoga Allah selalu disisimu akhi” kupandu mengucap sayahadat. Napasnya kemabng kempis. Dan beberapa batang  kata tiba-tiba meluncur dari lisannya,
“Kita adalah makhluk lemah yang hanya berpaku pada cintaNya. Usir penjajah Israel itu dari tanah kita. Kita merdeka!” suaranya lemah dan semakin lemah. Hilang.

Rangkaian kata itu membuatku terbelagak. Kupandangi muka sahabatku itu yang telah pergi bertemu Sang Ilahi. Mataku melihat tentara Israel yang semakin ganas mengebom kami. Kuletakan jasad Jaber dan kuambil beberapa batu pasri, kulemparkan namun tak mengenai tentara Israel malah tidak sampai. Kucabo lagi, berkali-kali, tapi hasilnya nihil.

“Mundur!!!” teriak komandan Ahmed yang melihat pasukannya kalang kabut.

Aku membalikan badan, namun rasanya sulit aku masih ingin bertarung dengan tangan kosong. Aku hanya ingin segera bertemu dengan Sang Maha Cinta, Lillahi Rabi. Kulangkahkan kakiku berlari menjauhi lokasi pertempuran menuju beberapa terowongan yang masih utuh bersama brigade yang lain.


Namun, ketika aku sedang berlari, ada getar yang menerpa tubuhku dan membuat pandangnku gelap. Seketika gelap. Tubuhku terasa terlempar beberapa kilometer. Mengapa dengan aku? Kugerakan tubuhku namun tak bergerak. Sulit. Dan mengapa tubuhku menjadi kaku. Seketika komandan Ahmed mendekat seraya berkata,”ucapkan syahadat wahai saudaraku.”

Monday, January 5, 2015

Kenangan


Waktu sudah lewat begitu jauh, dari saat itu. Saat satu kelas tertawa bersama mendengarkan lagu slank. Memang suaramu bagus, sangat bagus melebihi suara sumbang kami. Tapi kelakuanmu ketika bernyanyi membuat kami terpingkal-pingkal bukan kepalang. Tangan kirimu selalu menyentuh bagian vital dan kadang-kadang kau dekatkan ke hidung: jorok. Dan tnagan kananmu dengan santai menggam handphone bermerek china.

Kelakuan konyol kita begitu terasa setelah lama tak melakukan itu lagi: kenangan. Kita berteriak, berprilaku seenaknya. Futsal mungkin gambaran representatif perlakuan kita. Hampir setiap kelas kosong—tidak ada guru—kita selalu berada di lapangan, bermain futsal dengan kelas lain. Walaupun sudah dekat dengan UN.

Kelas yang bergambar pantai itu mengeisi relung kita, dan beberapa graviti kata yang acak-cakan. Tak mengerti artinya apa. Jangan salahkan kami karena bukan kami yang menggambar, tapi kakak kelas kami satu tahun yang lalu. pertimbangannya kenapa tak dihapus,adalah kami sangat khawatir tidak bisa menggambar sebagus gambar pantai itu. Dan bila kau orang luar, bukan kelas kami, datang dia langsung mengatakan, “gambar apa ini gak jelas, gaje”

Kabut mulai menyeringai kemudian terbang terhempaskan angin dan cahaya matahari memaksanya melakukan proses evavotranspirasi. Jalan yang halus terbasuh air hujan tadi pagi, licin. Pikiranku berulang, kembali 2 tahun yang lalu, bersama dengan kalian, sahabatku. Ketika kuputar video atas rekaman-rekaman kita. Ada satu rasa yang tibul: kerinduan. Kapan kita kan bertemu? Kapan kita tertawa terbahak-bahak seperti dulu? Kapan kita mengebrol dengan tema yang tak jelas?

Mungkin, aku menebak, kita sudah sibuk dengan pekerjaan atau kuliah kita. Kita sudah mafhum bahwa kehidupan tak hanya sibuk mengingat masa lalu. Karena hari ini juga akan menjadi masa lalu dikemudian hari. Aku pikir, masa lalu hanyalah nostalgia dan harus diambil hikmahnya. Dari masa lalu juga kita bercermin atas kelakuan-kelakuan kita—yang perlu perbaikan.

Hidup kita telah melewati halang rintang, di masa lalu. segala pilihan kita sekarang ditentukan oleh masa lalu kita sendiri, dan masa depan kita ditentukan oleh hari ini. Ketika masa lalu kawan luar biasa, maka tak dapat dielakkan, hari ini kawan akan luar biasa pula. Begitu juga seterusnya. Merangkai mimpi-mimpi yang kian susut oleh gerusan waktu, yang terkadang membuat pesimistis dengan mimpi kita sendiri.

Awan hijau itu berkilauan, lebat. Tak usah gundah gulana dengan masa depan, dan aku yakin setiap orang pernah merasakan gundah gulana terhadap masa depannya. Sebaiknya tak usah khawatir, kerjakan saja apa yang harus dikerjakan untuk mencapai mimpi-mimpi kita. Buat peta mimpi, akan kemana setelah ini, dan apa saja yang harus dilakukan. Bukankah orang mengatakan mimpi tanpa perencanaan adalah merencanakan sebagian daripada gagal?

Lagu merdu mengisi langit pagi ini. Suara burung mendayu lembut. Burung itu digantung dengan kurung bambu. Kakinya meronta dan sayapnya dikepakan. Berpindah kesana-kemari seolah mencari jalan keluar. Entah, mungkin dia ingin melarikan diri supaya hidup bebas bersama sekawanan burung lainnnya. Tak sendiri di dalam kurung ini, tak ada teman.


Kita tak seperti burung yang terkekang. Kita bebas dan menentukan segala pilihan kita dengan syarat kita berusaha dan berdoa kepada yang Maha Kuasa, Allah. Sangat simpel dan mudah bila diucapkan. Walaupun pada kenyataannya rintangan siap menghadang dan membuat kira ragu akan mimpi-mimpi kita. Namun, bila tak ada rintangan apalah artinya hidup. Bukankah pepatah mengatakan pelaut yang ulung lahir dari ombak yang liar?

Tuesday, December 23, 2014

Maria


Suara kelas gaduh. Orang-orang hanya terdiam mendengarkan. Dosen bungkam, hanya kami berdua yang berbicara. Berdebat. Sudah satu setengah jam berlalu. Sejak dosen masuk dan membuka termin diskusi. Kami saling menghujat, menangkis, dan meruntuhkan argumen yang berasal dari pemikiran kami.

“Kenapa kau tak mengucapkan Selamat Natal? Bukankah kami selalu mengucapkan pada hari rayamu, Selamat Idul Fitri, Selamat Idul Adha? Malah kami selalu memberikan sedekah saat hari rayamu.” Intonasinya meninggi.

Aku tidak terpancing emosi. “Kita harus dudukan perkaranya, apakah kedua hari raya, idul adha/fitri sama esensinya dengan Natal? Jelas berbeda. Kami merayakan Idul fitri untuk mengingat kemenangan, yang artinya kembali ke fitri, suci. Sedangkan Natal adalah peringatan pengangkatan Nabi Isa atau Yesus menjadi Tuhan. Jika kami mengucapkan selamat hari Natal, itu berarti mengakui Tuhan yang kamu sembah, dan pengakuan akan Tuhan kamu itu  melanggar akidah atau kepercayaan kami”

Dia diam

“Sekarang bisakah kamu mengucapkan dua kalimat sahadat, “lā ilāha illa l-Lāh muḥammadar rasūlu l-Lāh?” lanjutku

“Tidak, aku tidak bisa” dia menggeleng lemah

“Nah, seperti tidak bisanya kamu mengucapkan sahadat. Seperti itu kami tidak bisa mengucapkan Selamat Natal. Tapi Islam sangatlah Toleran dan Toleransi. Kami juga menghargai peryaan umat lain, termasuk agamakamu, Kristen” suaraku perdu pelan tapi jelas.

Waktu menunjukan 10.20 siang, itu berarti waktu kuliah telah habis. Dosen tak memberikan kesimpulan apa-apa, dia menyerahkan kepada kami sepenuhnya. Dia menilai kami sudah mampu menyimulkan sendiri. Dosen keluar diiringi salam. Hari itu, mata kuliah telah habis, kecuali gadis Nasrani itu yang masih ada satu mata kuliah lagi. Aku meninggalkan ruangan. Kutatap sedikit gadis Nasrani yang ada di kursi depan, dekat dengan meja dosen. Wajahnya merah padam, mungkin dia marah. Namun, aku hanyalah menyampaikan ajaran agamaku. Kualihkan pandangan. Aku takut syaitan menggangguku.

******

Perutku berbunyi beberapa kali. Sedangkan hujan masih segan untuk berhenti. Kutengok jam, sudah jam sepuluh malam. Beras sudah habis. Persedian mie atau telur yang kubeli dari pasar Gerlong dua minggu lalu sama, sudah habis. Aku memegang perut dan mulutku bergumam, “lapar”.

“Jam segini tak ada pilihan lain selain Nasi Goreng, Kwetiaw, atau Mie goreng. Warteg dengan harga murah pasti sudah tutup” hatiku bergumam. Kuraba isi dompet, tipis. Perutku masih berontak akibat belum aku isi sejak siang tadi. Kuteguk air putih beberapa gelas untuk mengganjal, tapi perut masih berontak dan tak bisa lagi kutahan.

Hujan semakin kecil. Kuambil dompet dan kupakai jaket. Sayang aku tak punya payung. Aku menembus rintikan hujan dengan tangan kumasukan dalam-dalam pada saku jaket. Dingin terasa menyergap kulitku, padahal sudah memakai jaket.

Aku sampai pada gerobak bertuliskan “Ohim”, salah satu nasi goreng langganan mahasiswa, karena porsinya yang jumbo. Aku menyukainya, apalgi di saat lapar begini. Kupesan satu dan aku menunggu sambil melihat siaran Televisi, Indonesia Lawak Club (ILC). Aku tertawa beberapa kali dengan lelucuan Cak Lontong. Dia memaparkan survey konyolnya yang seolah rasional dan membingungkan para pelawak yang lain. Kulihat jam tangan. Sudah hampir sepuluh menit dan perutku makin melilit. Kutengok sedikit, Pa Ohim sibuk menggoreng dengan muka agak kecut, muka khasnya.

Seorang pemuda mengantarkan satu porsi nasi goreng mengepul berasap, panas. Kubuka kerupuk dengan mengucap Basmalah. Walau perutku melilit kutunggu beberapa saat agar nasi goreng tak benar-benar panas. Aku hanya teringat dengan sabda nabi, kalau meniup makanan yang panas itu tidak baik.

“Eh... Iwan, makan nasi goreng?”
Aku terperanjat kaget. Kulihat sumber suara.
“Iya” aku senyum penuh kaget. Kenapa dia ada disini? Ucapku dalam hati
Kemudian dia duduk tepat didepanku.
“Maaf ya, semua tempat sudah penuh hanya ini yang kosong”
“mangga...” aku menyilahakan

Namun entah kenapa ketika dia duduk tepat didepanku. Pandanganku menjadi kaku. Apalagi wajahnya yang tak biasa, putih bersih dan rambutnya terurai lebat. Aku mengalihkan pandangan beberapa kali. Sulit. Ingin sesegera mungkin aku menghabiskan nasi goreng ini. Tapi apakah aku sanggup dengan porsi jumbo panas ini?

“Perdebatan tadi pagi sangat seru” dia tersenyum lebar
“Iya”
“Akhirnya aku tahu, kenapa muslim sangat melarang sekali mengucapkan Natal. Awalnya aku salah paham, kenapa agama kamu tak toleran? Walaupun beberapa temanku yang muslim suka mengucapkan selamt Natal. Namun sekarang, aku mengerti.” senyumnya menngembang “Oh iya maaf tadi emosiku tersulut dan kau hebat, kau sangat taat sekali dengan agamamu. Aku suka. Aku mengapresiasi itu”
“Oh begitu”

Sebenarnya ingin sekali kubicara panjang lebar. Tapi bibirku pelu dan aku menahan itu. Apalagi ketika kutatap wajahnya. Ada sesuatu yang menancap pada perasaanku. Dan ketika kata-kata “aku suka” meluncur dari bibirnya, hatiku berdesir hebat. Aku makin kaku. Aku salah tingkah. Ada apa ini?

Nasi gorengku makin dingin dan aku memakannya terburu-buru. Beberapa kali dia mengingatkan agar tidak makan cepat-cepat. Namun aku semakin lahap, selain karena lapar, aku sangat ingin sekali pulang mengakhiri pertemuan dengan Maria, Gadis Nasrani itu, yang tepat duduk di depanku, malam ini.

“Oho..oho..oho...oho....” aku tersedak, kututup mulut supaya nasi goreng dalam mulutku tak muncrat keluar.
“Ini minum” dia menyodorkan segelas susu yang baru saja dia beli
Aku masih menutup mulutku dengan tangan.
“Ini minum” dia mendesak

Aku ingin sekali keluar kemudian memesan air mineral di warung seberang jalan. Sulit. nasi goreng berminyak banyak ini tersangkut dikenggorokan. Dan mataku tertutup menahan sakit.

“Ayo minum” dia makin medesak “nanti tenggorokanmu sakit” raut muknya khawatir.
Bagaimana ini. Dengan terpaksa aku meminum segelas susu yang dia berikan. Alhamdulilah sendakanku hilang.
“Nanti kuganti”
“Tidak usah, itu pemberianku ko, kan tadi kamu keselek”
“Jangan begitu, nanti kuganti”
“Tidak usah, tidak usah”
“Jangan-jangan, aku ganti ya sekarang”
“Tidak, tidak, aku sudah tidak ingin meminum susu lagi”
Dia menggeleng keras dan menahanku pergi memesan susu.
“Maaf ya”
“Maaf kenapa?”
“Iya pasti karena aku, kau tak mau lagi....”
Dia memotong
“Bukan-bukan, aku tak ingin saja. apalagi setelah melihatmu sesenggukan. Aku jadi takut sepertimu, keselek” Tangan halusnya menunjuk kepadaku dan dia tertawa kecil.
Aku tertunduk malu dan kalaupun kuganti uangku pasti tidak cukup.

********

Aku terbangun, kulihat sudah jam  tiga malam. Aku berbegas ke kamar mandi, mengambil wudhu. Kulipat kasurku, karena ruanganku sempit, dan kutunaikan shalat sepertiga malam—tahajud—beberapa rakaat.

Namun ada yang aneh dengan mimpiku malam ini. Wajah Maria muncul beberapa kali. Apalagi ketika kutunaikan shalat. Wajah maria semakin menjadi-jadi, terbayang. Kata-kata “aku suka” semakain terbersit. Kata-kata itu seperti candu, terus berulang. Kupejamkan beberapa kali supaya fokus—khusu. Malah suara itu makin jelas dan bayangan wajahnya yang putih, sipit, serta senyumnya bagai bunga tulip mengembang membayangiku.

Aku terdiam sambil menunggu Adzan subuh setelah bermunajat kepada-Mu. Aku semakin limbung, entahlah. Bayangnya selalu saja muncul. Kuambil buku Api Tauhid karangan Habiburahman El Shirazy, kubaca beberapa dan ketumukan kata “Hal yang paling layak dicintai adalah cinta itu sendiri, dan hal yang paling layak dimusuhi adalah permusuhan itu sendiri.”

Kata-kata membuatku semakin limbung. Jantungku berdetak kencang. Mungkinkah aku jatuh cinta kepada gadis Nasrani itu? padahal selama ini aku benci, karena selalu mennghujat agamaku?


Suara adzan menyeru, kulihat jam sudah menunjukan 04.15. Tak pikir lama aku langsung beranjak menutup pintu, pergi ke surau yang terletak beberapa ratus meter dari sini, kosanku. saat ku ayunkan langkah pertama, aku berucap pelan dalam hati, “Ya Allah jagalah hati ini, jagalah dari perbuatan yang tak Kau ridhoi, bimbinglah aku agar selalu menjadi hambu-Mu yang bertakwa, cintakanlah aku kedalam cintamu dan bencilah aku dalam salahku.”

Saturday, December 13, 2014

Perdebatan dengan Gelitikan


Perdebatan adalah hal yang lumrah. Namun jika perdebadan disandingkan dengan nafsu, apakah itu sebuah pencarian kebenaran. Bukankah kita tahu, debat itu untuk mencari kebenaran? Ada pula yang melarang perdebatan, karena kita tahu, perdebatan saat ini hanya sebuah omong kosong belaka.

Begitupun dengan kita. kita selalu berdebat disela-sela waktu subuh setelah  shalat dan mengaji bersama.  Senyumnya selalu menghias ketika kuberbalik setelah mengucapkan salam. Kadang perdebatan itu hanya kekonyolan dari waktu yang telah kita lewati. Dan Aku suka dengan bibirmu yang ragu mengucapkan kata ketika kutodong dengan sebuah pertanyaan.

“Apa yah?” dia menggaruk kepalanya. Jilbab panjangnya  dilepas, rambutnya terurai lebat. Kadang aku membelai rambutnya.
“Ayo” jariku bergerak menyentuh hidungnya pelan. Dia mengelak sedikit.  Jari manisku menyentuh pipinya.

Dia membalas

Tangannya meronta menyentuh hidungku, aku mengelak. “aits, gak kena”
“Ih curang” kemudian dia mencubit pahaku keras. Sakit.
“Aw.... “ aku menarik nafas lewat mulut.

Mulutku diam, namun tanganku berbicara. Kurangkul dan kugelitik tubuhnya. Dia menghidar beberapa kali, tapi tangan kananku menggengam keras tangan kirinya. Kemudian kukunci tubuh bagian kirinya. Dia tak bisa mengindar.

“Geli....geli..... hahhahaha..... udah....udah....”
Aku tak menghentikannya, gelitikanku itu.
“Hahahaha.....udah....udah.....geli.....” dia  memelas.

Aku melepasnya

“Dasar... lelaki yang gak mau ngalah.... Ih egois” dia cemburut. Dia makin lucu dan menggemaskan.
“Maaf...maaf” kuhadapkan wajahku. Aku senyum-senyum.

Tiba-tiba, kedua tangannya yang lembut itu langsung menggerayangi bagian tubuhku: pinggang.  Aku tak bisa berbuat apa-apa. Aku tergapar. Tangannya tak henti menggelitiki. Aku tertawa sampai cecenggukan, bahkan mata meneteskan air beberapa kali.

“Sudah...sudah....Jika digelitik terus, bisa sakit” suaraku perdu
Tidak tak peduli. Dia nampak asyik menggeranyangi.
“Kalo sakit, pasti ga..ga...k kerja. Haha..hahaha.”
Dia menghentikan gelitikannya.
“Salah siapa? Siapa yang mulai?” dia menohokku.
“Iya..iya... salah aku”

Kemudian dia tersenyum mekasakan. Dia tertawa sedikit.

Pagi itu, bukanlah perdebatan yang dilantunkan, tapi sebuah gelitikan yang menimpa kami berdua. Namun, aku bersyukur mempunyi istri seperti dia. Dia sholehah, menurut suami, dan tentu dia cantik. Tak ada yang bisa menggantikan dia, kecuali Allah dan Rasulnya. Untuk itu kuletakan kecintaanku padanya uratan ke-3.

Mungkin inilah manisnya iman. Memang benar apa yang dikatakan oleh Al-Qur’an, “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang” (QS. Ar Rum: 21). Sungguh aku sangat mencintainya, menyayanginya, dan akan menjaganya sampai akhir hayat. Terimakasih istriku, semoga kau tetap tersenyum.


Wednesday, December 10, 2014

Surat Dari Gadis Berhijab Merah Marun


“Ini, sampaikan juga ya ke anggota Kalam* yang lain” mukanya merah. Suaranya halus perdu. Dia tersenyum tipis.
 “Iya..”, kataku sambil menganggukan kepala.
“Maaf itu cuma satu, sampaikan juga ke yang lainnya ya, jangan lupa”
Aku mengangguk dan tersenyum.

Dia pergi diiringi salam. Angin berhembus mengenai hijabnya yang panjang, terurai pelan. Dia memakai jilbab dan hijab merah marun. Langit mendung sore itu. Hujan rintik-rintik jatuh membasahi jalanan gerlong yang hangus sejak tadi siang. Debu mengepul dan bau aspal terisap.

Kulihat, dia  mempercepat langkahnya kemduian hilang berbelok ke arah selatan, Komplek Perumahan Angkatan Darat (KPAD). Sedangkan aku terpaku pada kertas merah jambu yang dia berikan barusan. Di kertas itu tertulis “Undangan” dan dua burung japati terbang mesra tepat dibawah aksaranya.

Hatiku berdetak cepat. Entah kenapa. Kutenangkan diriku, namun pikiranku berontak. Mungkinkah ini. Mungkinkah. Aku masih tidak percaya. Aku mencoba menahan pikiran burukku. Aku tak mau pikiran burukku ini membuyarkan semua harapan.

Jujur. Aku masih tidak mengerti. Kutatap surat itu lekat. Aksara undangan itu menusuk hatiku dan membucanhkan rasa, kemudian rasa itu  meluber kemana-mana: kecemburuan. Hujan makin membesar dan aku membeku terpaku pada tempatku—saat penyerahan surat  undangan tadi. Baju kemeja dan celana levisku basah kuyup, begitu juga dengan buku catatan kuliah yang ada di tas. Semuanya tak tersalamatkan dari guyuran hujan, kecuali tubuhku yang masih tak bisa menerima surat itu.

“Bagaimana Ini” hatiku gamang, kecemburuan masih membelenggu.

Surat itu kuletakan dalam lemari dan kukunci rapat-rapat. Surat itu tak basah, karena terbalut oleh plastik. Kakiku tak bisa diam, hilir mudik kesana kemari. Kadang aku kesal dan berguling-guling diatas kasur tak jelas. Aku menengok lemari itu lagi. Aku penasaran. Kenapa aku sedangkal ini. Padahal hanya tulisan undangan saja. mungkin bukan acara dia. Bukan pernikahan dia. Bukan resepsi dia. Kenapa aku harus khawatir. Kenapa aku harus risau. Dia itu siapa. Bukan siapa-siapa kan. Hatiku menguatkan. Aku beristigar beberapa kali.

“trek....trek...”

Dua suara kecil itu menandakan lemari telah terbuka. Surat itu ada diatas tumpukan baju. Kuambil dan kubuka pelan. Hatiku berdetak kencang.  Kuucapkan basmalah. Dan surat itu melebar seukuran kertas A5. Kubaca teliti. Entah, air mataku mencair dan hatiku pilu. Mungkin ini mimpi, kataku dalam hati. Namun, jam dinding masih berdetak dan hujan masih megnalun pelan, tak berhenti sejak sore tadi. Ini nyata.

Undangan Surat Pernikahan

Atas berkat rahmat Allah yang telah memberi rizki dan nikmat kepada kita semua. Shalawat dan salam mari kita limpahkan kepada Nabi kita tercinta, Muhammad Saw. kami selaku pihak keluarga mengundang kepada saudara/i untuk menghadiri resepsi pernikahan.

“Ali Rahmat bin Aziz Rahman”
Dengan
“Aisyah Azzahra bin Munawar Abudurahman”

Aku tak sanggup membaca kata-kata yang ada di dalam undangan itu. Aku tak sanggup meneruskan. Surat itu kulepaskan. Seketika, Aku ingin merobek surat itu dan aku ingin membakarnya. Aku sangat membeci Ali, calon suami Aisyah. Namun siapakah Ali, tak pernah aku mendengar namanya. Aku ingin menghajarnya. Aku sungguh marah dan cemburuku kembali membuncah.

Udara hening. Aku diam. Mataku hujan deras seperti hujan sore tadi. Aku bertanya-tanya pada diriku sendiri, kenapa aku sangat cemburu. Kenapa aku sangat kesal dengan surat ini. Kenapa dengan perasaanku ini, yang tak bisa kukendalikan. Ada apakah, kenapa?

Aku bergegas mengambil air wudhu dan menunaikan beberapa rakaat shalat kiyamu lail. Dalam shalatku itu tak berhenti bayangan Aisyah mucul. Dikala takbiratul ihram dan kubaca surat Ar-Rahman, wajahnya terpangpang jelas. Ketika kuruku, suara perdunya mengalun hebat. Aku tak fokus. Bayangan itu muncul silih berganti sampai aku takhitatul akhir.

“Ya Allah, hambamu ini yang kerdil dihadapanMu, sungguh aku mencintainya, mencintai Aisyah. Kenapa Kau jodohkan dia dengan yang lain. Kenapa ya Allah. hatiku sakit, perasaanku teriris, dan akalku bertaburan tak tertata. Bukankah kau Maha Adil Ya Allah? Bukankah Kau Maha Pengasih? Bukankah kau tahu hati hamba selama ini?” pipiku sembam.

“Ya Allah, dari lubuk hati yang paling dalam. Aku tersadar, aku telah melakukan perbuatan dosa kepadaMu. Aku telah khilaf. Mengapa aku berada di jalanmu, mengkaji islam, dan mengingatkan orang, hanya karena aku mencintainya, Aisyah. Aku mengubah sikapku karenanya. Aku ikut Kajian Islam Mahasiswa karenanya. Aku lakukan semua ini karenanya. Maafkan aku Ya Allah. aku telah menafikan diriMu, zatMu, KuasaMu. Harusnya aku menyandarkan ini kepadaMu” sajadahku banjir oleh tangisanku sendiri.

“Untuk itu, bimbinglah aku Ya Allah dalam meluruskan niat ini. Hapuslah bayangan tentang dia Ya Allah. Sungguh, aku ingin melupakannya. Biaskanlah dia seperti aku biasa dengan yang lainnya, para sahabatku. Aku mohon ya Allah. Kaulah yang Maha Tahu Atas Segalanya. Kaulah yang Maha Tahu tentang isi hati ini” aku tertunduk lesu. Air mataku mengalir deras bagai sungai di musim hujan.

Aku beranjak. Sajadah kulipat. Kasur kuamparkan kembali. Aku duduk diatas kasur dan kubasuh bibirku dengan bacaan Al-Quran. Surat An-Nisa yang aku baca kala itu. Beberapa lembar kulahap. Bibirku melaju deras. Tak terasa sudah dua juz. Ketika bayangan wajah Aisyah muncul kukeraskan bacaan. Maka bayangan itu Alhamdulilah hilang. Walaupun aku sulit menerima kenyataan ini, tapi aku ikhlas dan aku bersyukur, karena aku telah tersadar bahwa cinta itu adalah Kau, Ya Allah.

****

Undangan itu telah kuberitahukan kepada semua anggota Kalam, termasuk para ketua dan jajarannya. Tepat hari senin pesta pernikahan itu berlangsung. Dan hari minggu akad pernikahan itu di gelar di Masjid Baiturrahman Cirebon. Kami berangkat kesana dengan mobil sewaan.

Akad suci telah berkumandang. Aisyah telah menjadi milik orang lain, Ali Rahmat. Kami berdoa bersama dipimpin seorang Ustad. Tak lama, Aisyah muncul dan satu kecupan hangat mendarat di keningnya. Kecupan itu dari suaminya yang telah halal beberapa menit lalu. Semua saksi pernikahan mengucap takbir bersama. Kulihat pipi aisyah merah merona.

Para saksi telah bubar. Kami—Kalam—mendekat menyalami Ali. Dan hatiku shock berat. Ali memukul pundakku dan dia berkata dengan lantang, “Sudah lama tak berjumpa sahabat kecilku, kemana saja? aku sangat rindu?”
--------------------------------------------------------------------------------
Keterangan:

*Kalam adalah singkatan Kajian Islam Mahasiswa. Salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa  yang ada di Kampus UPI, yang mengkaji segala seluk beluk Islam.

Tuesday, December 9, 2014

Jangan Tanyakan Kerjaku Apa


Beberpa menit yang lalu nada dering HP-ku mengalun deras. Satu sms masuk, entah dari siapa. Sedangkan aku masih tergantung di atas gedung dengan tali yang diikatkan ke tubuh. Aku mengelap kaca-kaca gedung yang lebarnya beratus kali lipat kaca jendela rumah, seperti lapangan sepak bola. Sebenarnya pula, aku dilarang keras oleh mandor dan juga aturan, membawa HP sedang bekerja. Tapi aku memaksa hingga mereka kalah argumen. Aku beralasan dengan alasan yang cendrung diada-adakan. Satu hal  yang membuatku nekat membawa Hp ini. Hal itu adalah aku mencintai Istriku.

Dia sering marah jika telponnya tak dijawab atau smsnya tak direspon. Istriku adalah istri yang baik, walau obrolan orang selalu miring tentang istriku. Tapi aku selalu mempertahankan, bahwa istriku itu baik dan nurut pada suami.

Hp itu masih bergetar hebat, nada deringnya masih mengalun mesingi udara yang melayang di sekitar gedung. Ini telpon, bukan sms lagi, kataku dalam hati. Dan aku meminta orang-orang diatas gedung untuk menarik tali. Mandor tampak kesal. Kubiarkan saja. Hanya butuh waktu beberapa menit, aku sudah di atap gedung.

Kulihat HP itu, beberapa kali panggilan telah masuk dan ada satu sms. Kubuka palan. Hatiku tersentak hebat dan aku tak percaya ini. Ada apa dengan istriku. Sms itu lugas dan jelas, “kerjamu apa? Dasar lelaki tak bisa cari nafkah”.  Pikiranku mencoba mengelak. Ini bukan istriku. Kucek lagi nomer pengirim sms itu. Benar ternyata istriku. Ku cocokan nomer pengirim sms dengan dengan nomer kontak istriku. Sama. Nomer kontak istriku itu kunamakan “sayang”. Dan nama “sayang” terpangpang jelas di inbox yang barusan kubuka.

Mengapa istriku menulis sms seperti itu. tak pikir lama. Aku langsung pergi dari pekerjaan mengelap kaca gedung. Rasa benciku muncul pada pekerjaanku ini. Mandor menahan. Namun aku lurus mendekat sebuah lift. Aku diam dan tak berkata apa-apa, hanya saja mukaku memerah.

Istriku pasti berada di kantornya. Hanya beberapa ratus meter dari gedung ini. Aku berjalan cepat, kemudian setengah berlari, dan kaki tak dapat menahan lagi, aku berlari sekencang-kencangnya. Dalam tempo sekejap. Gedung tempat istriku bekerja sudah di depan mata. Sebuah bank tepatnya. Kemudian pintu kaca kudorong. Dua orang pelayan menyambut.

“Selamat datang, ada yang bisa dibantu”
“boleh bertemu dengan ibu Firda, saya suaminya”
“Oh begitu, tapi sekarang jam kerja pak, mungkin bapak bisa menunggu saja, karena 30 menit lagi istirahat”

Namun aku mendesak. Aku mendesak. Berbagai alasan aku keluarkan. Perdebatan mulut itu terjadi hebat. Saptam sempat menoleh beberpa kali. Aku tak peduli. Pelayan itu meletakan gagang telepon di telinga kananya. Satu dua ucap suara dia katakan. Mungkin dia memnita izin kepada atasan atau manager.

“Iya, bapak silahkan masuk, jangan lama-lama ya pak”

Aku langsung melibbas. Emosiku makin menanjak. Kenapa dia katakan ini kepadaku, kata-kata dari isi sms itu masih tertera hebat di pikiranku. Aku menuju pada kursi dengan ruangan berukuran 4x5 meter, ruangan sekertaris.

Tanpa mengetuk pintu atau salam, aku langsung menerabas pintu membantingkan pintu. Namun ternyata. Pikiranku tersentak hebat. Aku bagai terjun diatas gedung. Aku bagai tertimpa batu besar berton-ton lalu meremukan tubuhku. Hatiku remuk.

Aku diam melihat tajam. Kemudian mata istriku menatap balik. Tubuhku berbalik dan kulemparkan pintu sekencang-kencangnya. Orang-orang disekitar tempat itu—pegawai—menatapku ku aneh.

“Tunggu...” tangannya menarik tanganku.
Tubuhku berbalik. Aku langsung menamparnya.
“Dasar istri jalang, gak tau diuntung. Jadi selama ini kau melakukan kebusukan dengan orang berdasi itu. hah. Dasar pelacur” aku geram aku marah. Marah besar.
“Maaf aku hilap.. Maa..”
Aku memotong
“Maaf busuk. Perempuan goblok”
“Apa?” intonasinya meninggi, “goblok, tak tau diuntung. Yang goblok dan tak tau diuntung itu kamu. Apakah selama ini gajimu itu cukup? Dasar pengelap jendela gedung. Pekerjaanmu itu kotor. Kalau selama ini aku tidak kerja. Mana mungkin kita bisa membeli rumah, membeli mobil, membeli perlengkaan bayi kita, dan membeli segalanya. Gajimu itu tak cukup mas, kecil” dia berkaca-kaca, kemudian tangasinnya meleleh.
“Oh jadi itu alasan dibalik senyum manismu selama ini. Sungguh aku tak pernah memakai uangmu. Bukankah uangmu itu selalu kau tabungkan.Bukankah selama ini yang membayar cicilan rumah tiap bulan itu aku. Dan kenapa kau tak berterus terang, kenapa?”
“Itu Karena kau selalu sibuk dengan waktumu, mas. Kau selalu pulang malam”
“Sibuk, bukankah aku pulang hanya setelah isya. Itu masih sore. Bukankah kau yang selalu pulang malam. Hah. Bahkan yang menidurkan bayipun aku”
“Tappi....”
Aku menyela
“Dan sungguh aku sakit dengan perbuatan kejimu. Dan sekarang aku sadar, aku sadar betul. Ini semua keslahanku. Kenapa aku membiarkanmu kerja. Kenapa aku tak memberikan rizki yang layak untukmu. Dan kenapa aku mau menjadi suamimu yang dari dulu aku sudah tahu kelakuan busukmu”

Aku pergi dan dia menangis keras. Tubuhnya ambruk diatas lantai. Hatiku telah pecah, kuusap air mata yang terus meleleh. Aliran darahku beku dan nadiku tak bersuara. Waktu berhenti. Aku lari sekencang-kencangnya menjauhi gedung itu. sekarang. Aku hanya ingin terbang dengan sabun, lap, dan kacang gedung. 

Sunday, December 7, 2014

Gadis Berhijab Berpegangan Tangan


“Hahhaha.... ih kamu mah” mereka tertawa renyah di sudut angkot.

Aku hanya diam memandang  sesekali. Aku juga heran pada kejadian ini, mengapa? Apakah ini hanya mimpi disiang bolong, karena tepat saat ini tengah hari?

Kupijit dan kucubit tangan kananku. Sakit. Ini bukanlah mimpi. Ini nyata. Namun aku harus ber-husnudzun, mungkin mereka saudara tapi mereka tidak mirip, mungkin mereka adik kakak tapi mereka seumuran, mungkin mereka suami istri tapi apakah semuda itu?  kulihat parasnya, sepertinya mereka baru menginjak umur delapan belas. Tapi mengapa, mengapa dan mengapa.

Aku tergugu diam. Kulanjutkan dengan obrolan bertema anak-anak sungai Cikapundung yang nakal mengasyikan. Mereka berkisar antrara kelas 1 SD sampai kelas 4 SD. Kadang membuatku kesal bukan kepalang, kadang mereka sangat, sangat menyenangkan. Ah, itulah anak-anak, masa kecil yang penuh dengan suka. Meraka hanya bermain, tertawa, dan sedikit belajar. Senangnya jadi anak-anak.

Suasana di dalam angkot ini lumayan riuh. Parau suara dua orang yang “mesra.” Hatiku hanya dengki dan marah. Aku berkali-kali berpikir positif tapi tidak mempan menahan seruakan pikiran negatif. Aku hanya curiga. Curiga akan kelakuannya. Berhijab, menutup aurat, berpakaian longgar, namun bergandengan tangan dengan lelaki yang entah itu siapa.

Mereka makin asyik dengan candaannya. Padahal semua kursi penuh. Tepat, waktu itu, aku ditemai dengan dua orang teman, panggil saja Indra dan Bima, yang sama dari sekolah alam Cikapundung. Seperti mereka kami juga tertawa dengan beda tema pembicaraan. Kami berbicara tentang kekonyolan yang kami lakukan dan sikap-sikap anak-anak kepada kami, di Sekolah Alam Cikapundung itu.

Disela-sela itu, hatiku terpukul hebat. Otakku berpikir yang tidak-tidak—bukan pikiran kotor. Meraka saling menepak, menselonjorkan kaki bersama, dan menatap nikmat. Berdua. Apakah mereka tidak malu dengan kami bertiga yang ada disampinya. Sekali lagi ku tegaskan mereka masih remaja di usia yang sama, entah mahasiswa semester pertama atau anak SMA. 

Namun ada hikmah yang dapat kuambil. Ternyata antara pakaian dan perbuatan adalah sesuatu yang beda. Pakaian tidak mencerminkan perbuatan dan begitu juga sebaliknya. Pakaian syari’ belum tentu berakhlak mulia dan yang berakhlak mulia tidak harus berpakaian syari’, keduanya terpisah. Namun yang menjadi salah. Menjustifikasi pakaian dengan perbuatan dengan mengatakan” so suci, so alim”, “ngapain pakaian bagus--syari’—tapi akhlaknya  buruk.” Dengarlah akhwat pakaian adalah kewajiban yang sudah baku tertera dalam kitab suci dan Hadis Nabi. Menutup aurat adalah perkara yang tak bisa ditawar-tawar. Menutup aurat dengan menutup hati adalah beda, yang keduanya harus dilakukan. Perbuatan adalah cermin sikap dan karakter. Perbuatan dan pakaian bagusnya dibangun bersama agar totalitas dalam beribadah. Tapi, memakai pakaian syari’ wajib walau prilaku tidak baik. Inilah dilematika hidup. Mungkin mereka hilap, aku menyimpulakan.

Tepat di Panorama, dekat gang ojek, kami bertiga turun dan begitu juga dengan mereka. Aku mengucapkan salam kepada  salah seorang sahabatku, Indra. Aku dan Bima kemudian berjalan pelan menuju toko alat tulis. Aku hanya tersenyum dan melihat kedepan dengan obrolan lanjutan dari sisa angkot. Mereka telah menghilang, pergi, dan aku tak peduli. Semoga Allah menyadarkan mereka jika mereka berbuat seperti yang kuduga. Jika dugaanku salah semoga Allah memaafkan dan menyadarkan aku yang telah salah mengira meraka: suudzon

Note: Kisah Nyata, 

Saturday, December 6, 2014

Atap Bocor dan Pasar Baru

Langit menangis sore ini. Merdunya dercikan hujan kalah dengan suara hiuangan motor yang bising. Mentari nampak redup di ufuk langit sebelah barat. Kami bertiga tergopoh-gopoh ke sebuah terminal. Sebuah terminal kecil dan kusam yang berada di sebelah utara UPI: termial Ledeng.

“Gak makan dulu?” aku menunjuk ke sebuah wateg yang terkenal murah, warteg Bahari namanya.
“Nanti telat, benar lagi sore” seru Jihad
“Iya wan, nanti aja” Feisal menguatkan

Dengan menahan perut kosong keroncongan. Akhirnya kami terus melibas hujan menuju tempat terminal.

Suara Bus damri sudah menyela-nyela memanggil kami. Tapi, terlihat kosong dari kejauhan. Untung belum berangkat. Ada yang menghawatirkan dari bus damri itu. lihatlah kacanya yang dekil seperti tak pernah dilap. Mungkin hanya air hujan yang mau mengelapnya. Lihatlah bagian tubuh Bus Damri itu, berkarat hebat ibarat ibu-ibu lansia yang memaksakan jalan. Terdapat sebauh gambar disana yang bertuliskan “Oky Jelly Drink, minuman.....”. Papan iklan. Lihatlah muka Damri bagian depan, kaca cembung yang besar sudah menyusut dan kaca spionnya nampak lelah karena selalu menghadap ke belakang.

Tak menunggu lama, kami langsung naik ke bus damri. Satu persatu kaki kami melangkah. Suara dntakan terdengar akibat sentuhan sepatu dengan ubin damri. Kami mencari-cari tempat duduk yang nyaman dan nggak basah. Hujan kali ini membuat damri bocor. Platfom damri yang menggunakan triplek sudah tak karuan letaknya.  Besi penghalang di bagian atas yang langsung bersentuhan dengan hujan telah retak-retak.

Kami bertiga duduk tepat di bagian tengah badan damri. Kursi di depan kami telah basah, begitu juga dengan di belakang kami. Kursi basah itu jig jag, karena tempat bocornya tak beraturan.

Disana, hanya aku sendiri yang berbeda tujuan. Temanku, Jihad dan Feisal mereka mudik. Sedangkan aku pergi ke Pasar Baru untuk membeli sesuatu. Rahasia. Rencananya mereka berdua  akan turun dulu di Pasar Baru jika waktu memungkinkan. Dengan tujuan akan ke Vamosh—toko busana muslim—untuk mengambil barang pesanan, karena Jihad pembisnis. Dia jadi resseler produk dari Vamosh.

Beberapa menit menunggu hingga damri itu penuh. Di sela-sela menunggu keberangkatan damri. Perut sudah tak kuasa memanggil-manggil minta diisi. Aku mencoba mengajak kedua temanku itu untuk makan dulu. Menggeleng. Mereka menolak dengan alasan takut ketinggalan damri. Tepat di samping damri itu ada grobak somay. Dengan sedikit perdebatan, akhirnya kami bertiga sepakat membeli somay. Uang lima ribuan dikumpulkan. Jihad turun. Lima menit berselang, dia kembali dengan tiga bungkusan plastik. Kami langsung melahapnya.

Kursi sudah terisi semua. Damri berangkat. Suara parau hujan terkalahkan oleh bisingan damri. Suara itu persis seperti suara truk tahun 70 atau 80an. Jalannya meronta menembus hujan. Suara pekikan akibat gesekan besi yang sudah longgar terdengar. Dalam damri itu terkadang menyerebak bau karet yang menyebabkan enek pada ulu hati.

Damri menembus rimbunan perjalanan. Macet. Salah satu destinasi perjalanan sore itu. sudah menjadi kebiasaan di beberapa ruas jalan di bandung pada sore hari macet. Kemcacetan sudah bukab hal tabu seperti halnya korupsi yang melanda ini dari generasi ke generasi. “susuah mengurai macet” mungkit itulah sahutan dari para pejabat.

Hampir satu jam kami duduk di kursi plastik dalam bus damri. Waktu menunjukan hampir pukul  empat sore.

“Wah bang, kalo sampe sana jam 4 kemungkinan toko Vamosh udah tutup, kayanya ktia langsung aja ke Leuwi Panjang” meyakinkan
“Ah,” kecewa,  “Iya gak papa, sok aja we di lanjutin. Urang ge da sebentar paling,”
“Iya gara-gara telat tadi berangkatnya wat” sela Feisal yang ada di pojok dekat jendela. Dia asyik dari tadi mengamati hujan.
“Iya, tadi lambat sih” aku menguatkan
“Eh kan tadi nungguin ente. Ente tadi asyik aja maen laptop. Di hayu-hayu ge”
“Tadi pan ngurusin dulu  Stand GIF had, pan cek urang hayu

Feisal diam, karena dia yang mengkoordinir GIF. GIF adalah singkatan dari Geography Islamic Fair. Sebuah acara bedah buku dan talkshow dengan penulis ternama yang menulis 99 Cahaya di langit Eropa, Hanus Rais. Dan juga, Founder Great Muslimah Indonesia, Febrianti Almeera. Acara akan digelar tanggal 13 Desember, tepat minggu depan.

“jadi engke mah ulah telat geura” lanjutku
Semua diam beberapa saat. Jihad mengalihkan pembicaraan pada topik lain. Kami cair lagi. Satu belokan lagi Pasar Baru terlihat. Bus damri tetap stagnan dalam kecepatan 40-50 km per jam. Suara menggerungnya tetap terdengar. Namun ada janggal dengan damri ini, yaitu ongkosnya naik seribu menjadi  Rp. 4.000. Pasti ini gara-gara ulah pemerintah menaikan BBM. Transportasi publik pun ikut-ikutan naik dan yang menjadi korban adalah kita Masyrakat. Sudahlah.

Dalam jangka dua tahun ongkos damri naik satu kali lipat. Harga asal ongkos damri adalah Rp. 2000, mungkin pada tahun 2008 hanya Rp.1000. Anehnya, berapapun harga BBM naik, ongkos Damri naik kisaran Rp. 1000.

Damri berhenti pelan meinggir. Aku pamit pada dua orang sahabatku yang duduk tenang.

“Duluan nya”
“sip”

Dan aku turun mataku menatap pada gedung bertingkat. Itulah Pasar baru. Pasar semi modern. Kakiku melangkah mnyebrangi ruas jalan. Sedangkan hujan telah berhenti. Aku menuju ke gerbang depan pasar. Ku saksikan hanya segerombolan orang yang lalu lalang menenteng di lengan kanan. Entah apa itu. aku ragu. Tapi aku memberanikan diri untuk masuk bersama fajar lampu yang menyingsing dia atap pertokoan.


Catatan: Kesamaan Tokoh dan Tempat Disengaja. J

Damri Hari Ini, Beratap Bocor dan Tua
Dok. Pribadi