Showing posts with label Puisi. Show all posts
Showing posts with label Puisi. Show all posts

Monday, January 5, 2015

Menunggu


Rindu
Waktu makin terus belalu
Aku lelah
Lelah mengerjakan ini semua

Dulu sempat kau merayu dan aku mau
Kau bilang, “Ini Mudah”
Aku menyanggupi

Semenjak itu,
Aku merasa sendiri bergulat dengan kepercayaamu

Aku menunggu
Kapan kau akan menyapa.
Menanyakan, bagaimana keadaanku?

Kemudian
Kau menggengam tanganku erat
Sambil berbisik “kau bisa melewati ini semua”

Namun kurasa ini sia-sia
Lamunanku membisu

Semua
Bohong
Omong Kosong

Kau pergi
Tanpa salam kepadaku
Malah senyum saja enggan

Padahal dulu
Setelah kepercayaan itu
Aku bermimpi
Kita berdua, berbicara
Tentang novel-novel kita,
Tentang rumput-rumput yang mulai tumbuh,
Dan tentang apa saja

Aku gundah menawan waktu sendiri
Setiap hari hanayalah pelu
Aku putus asa
Menantimu.

Kuharap kau sudi
Karena aku sudah tuli karenamu

note: sekedar ilusi, kerinduan ini hanya sebagian kecil dari kerinduan-Mu, Ya Allah

Wednesday, December 17, 2014

Senggap, Rindu, Jalan Buntu


Senggap
Matahari senggap

Kau telah melakukan
Dengan atas perbuatan
Kini kau terlunta dalam mimpi

Aku sendiri
Salah

Maaf
Dimanakah kau berada?
Bukankah kita sempat merajuk dalam kamar pengap tak bercahaya?
Mengukir mimpi bersama dalam kasur yang tipis bertingkat tiga?

Dimana kau sekarang?

Sempat kutanyakan pada angin
Sayang
Tak menjawab

Leleh, air mata ini
Setiap kali kulihat perunduk yang kaku
Mebias tergambar mukamu

Suram
Sendiri
Tak ada teman

Dengar
Aku temanmu
Aku rindu padamu
Kenapa kau tak bicara?
Mengapa kau menyiksa dan mengurung pada ruang yang sempit?

Pergi
Itulah pesan terakhir yang kutangkap

Aku sesal dan menyesal
Bukankah kita berikrar akan memakai toga bersama?
Kemudian keluar  besama bintang yang telah kita gapai?

Rindu
Pada jalan buntu

Kau hilang
Dan aku tak menemukan jejakmu

Tuesday, December 16, 2014

Menahan Rindu


Kita menatap
Pada kaca jendela yang kusam

Kita diam
Dingin
Tak bergerak

Kita coba sentuh dilematika
Mencoba membuka frasa dari kata

Gordeng terlelap
Tergantung dan sedikit bergerak

Kita hanya membeku

Alunan suara dari ruangan yang jemu
Memudar

Kita tahu
Kita, berdua, ingin bicara

Kita hanya senyum
Kadang lepas
Menarik diri membelakangi kursi

Kita memerah
Dengan hati yang pilu menahan rindu
Kita hanya mendengar
papan bor yang bersuara

Putih .....
Bergurat hitam tak mengerti

Hening....

Kita Berdua
Hilang

Menunggu waktu


Note:
Untuk sahabatku yang selalu diam dikosan yang berukuran 3x3m. kapan kita bertemu lagi?

Referensi Gambar:

Sunday, December 14, 2014

Rindu Bulan


Malam ini, langit nampak lenggang
Hitam letak tak berwujud

Semilir angin menyentuh ranting kering
Terhenyak dalam dingin

Aku sepi
Pada kamar kosong sendiri
Termangu di depan kaca jendela

Entah sampai kapan
Aku menunggu bulan

Kulihat hanya jam yang sibuk
Melingkar mengelilingi angka

Padahal aku mengharapkan pesan
Namun hanya pengharapan
Hingga rindu bulan ini membuncah
Meluber dalam langit

Mengapa kau hanya diam, bulan?
Menutup dirimu dengan awan
Tak beranikah kau sedikit berucap lewat cahayamu?
Atau rembangan saja lewat urat langit
Tak bisakah itu?

Aku rindu
Aku rindu
Aku rindu

Aku hanya berharap pada keksongan
Dari tiap sudut sisi langit

Semoga gunung yang berdiri tegak
Menyampaikan rindu ini

Semoga malam yang hening
Dapat merekam semua kejadian
Bahwa aku rindu bulan

Akan pula kusampaikan pada Semesta Alam
Aku menahan sakit atas rindu

Menunggu
Menunggu
Dan menunggu

Pada bulan, aku merindu

 ------------------------------------------------------------------------------------
Catatan:
Hanya sekedar ekspresi
Bahwa kita—aku, kamu, dan mereka—tak’an bisa hidup tanpa bulan.

Friday, December 12, 2014

Sayap Malaikat


Bila terasa sulit
Genggamlah tanganku erat

Bila kau sedih
Sandarkan kesedihan itu di dadaku
Karena aku’kan mendekapmu


Bila terasa jenuh
Berdirilah tepat di belakangku
Karena aku akan menjagamu

Kita rasa
Malam ini hening
Sedangkan jam dinding berdetak keras

Biarlah bulan larut dalam malam
Biarlah awan mengembang dalam gelap
Biarlah mereka sibuk

Kita sudah halal sekarang
Dan aku ingin berbagi kehalalan itu

Kita harus ikhlas
Membiarkan bau surga menyerebak,-
mengisi setiap sudut ruangan ini

“la haula wala quwwata illa billah”
Dan malaikat turun menaungi kita
Mendekap dengan kedua sayapnya


Note: Terinspirasi dari pernikahan sahabatku yang beruntut. Mereka tampak gentar namun mantap. Mereka lebih tua 1-2 tahun dari aku.

Tuesday, December 2, 2014

Kita adalah aku


Diam
Kita hanya terdiam pada etika yang tak bosan
Kita tak bernajak pergi dalam hari  yang memaki

Ketika angin berhembus
Malam hening
Jiwa makin pudar dalam gelap

Kita hanya menatap pada sesuatu yang tak jemu
Kita hanya mendengar pada bisingan yang tak merdu
Kita hanya memeluk pada jalan yang terpaku
Kita hanya gundah pada bulan yang kian redup
Kita hanya terpaku pada jemari yang kusam

Dingin

Logika kabur dalam untain lamunan
Kita hanya sendiri
Kita hanya aku
Kita hanya berkaki dua

Kita hanya sebuah kiasan dari aku yang kesepian
Kita hanya kiasan pada matahari yang kedinginan
Kita hanya kiasan pada bintang yang membeku

Kita terkaku dalam hampa
Kita terjebak pada ruang berangin di lorong masjid

Parau

Cahaya kian memduar pada kita
Pada jiwa kita yang mulai terseok
Pada jiwa kita yang sakit tertusuk duri
Pada jiwa kita yang termenung kedengkian

Kita hanya mampu berucap ya
Pada ketidaksetujuan sebuat pendapat
Kita hanya diam dengan hati yang menggerutu dan pilu

Sekarang

Kita hanya harus hilang dari tempat tak bertuan ini
Kita hanya harus kembali pada IlahNya
Kita hanya harus bertobat dengan tobat sebenar-benarnya

Selamat tinggal malam
Semoga tak sendiri
Biar bulan dan bintang bicara padamu







Wednesday, November 26, 2014

Sebongkah Imanku


Aku hanyalah seorang perindu
Dibawah gelap yang sepi
Aku  hanyalah seorang pecinta
Diatas gunung yang sunyi

Sayang aku hanya perindu dan tak mengerti akan kata rindu
Dan pencinta yang tak mengerti akan kata cinta

Hanya ada sebongkah imanku ini
yang masih menahanku dari kerubahan jiwa
dan sebongkah ketaatan yang masih menarikku dari keterjatuhan
dari jurang dalam cinta dan rindu

sadarkan aku, Tuhan
hilangkan dilema ini
biarkan aku mencinta Sang Maha Cinta, Ya Rab
biarkan merindu pada Sang Maha Rindu, Ya Illahi

“Allahuakbar”
Biarkan kata itu mendentum dalam hati
Agar semua rindu dan cinta tertuju pada-Mu
Jangan biarkan aku lengah dan berpaling lagi
Biarkanlah aku disisi-Mu
Dengan alunan Tasbih seraya memuji keagungan-Mu.


 (Mawan)




Monday, November 24, 2014

Aku Takut

(norma07dp.wordpress.com)
Diujung fajar
Langit muram
Pada narasi yang tak bersuara

Dentingan jam merebah pada waktu
Sengau pada ruangan ini
Menghela nafas
Memutuskan nadi

Aku takut
Pada waktu yang berlanjut

Aku takut
Pada malam yang gelap

Aku takut
Pada suara yang bergemuruh

Aku takut
Pada jalan yang kutempuh

Aku takut
Akan angin yang menerpa

Dan
Aku diam
Mengurung pada kamar kosong

Aku diam
Pada lantai yang dingin

Aku diam
Pada mimpi yang mulai kabur

Kupahami semua pasti berlalu
Merubuhkan semua ketakutan

Aku ingin menjadi pemberani
Aku ingin merajuk pada dunia
Aku ingin memekik seperti burung

Aku tak ingin hilang
Aku tak ingin pudar
Aku ingin disini
Bersama mentari yang bersinar terang
Bersama ombak yang lari berkejaran

Aku ingin hidup
Aku ingin seperti mereka
Dengan caraku sendiri

Aku ingin bangkit dari kesulitan
Aku ingin buktikan
Walau semua hanya menyakitkan

Biarlah
Itu mendera tubuhku yang mulai goyang
Biarlah....
Biarlah....

Sampai akhirnya waktu kan menjemput
Dan yang Maha Kuasa kan memanggil


Sunday, November 23, 2014

Jemu

Kulihat hanya parau yang menggeliat
Hanya mata yang berbicara
Dan mulut yang terkatup
Semua terharu biru

Aku tercengang
Pada notasi yang tak jeda, keras
Mengiris hati
Dan bagai ombak yang mengikis karang
Yang kian muram

Ah, angin
Dimanakah engkau
Suasana panas ini, pengap
Serta nafasku tersengal

Aku hanya diam
Walau emosiku barusan melonjak
Kutahan diriku hingga membeku
Tak terucap, hanya tercengang

(unclegoop.wordpress.com)

(Mawan)





Puisi Tak Bermakna

Saat deru suara mengaduh, hanya aku yang diam
Bising serasa mengutuku dalam takdir
Perangai badannya yang tak bisa membutikan betapa benar omongannya
Dusta

Bila neraca suara naik turun
Aku hanya terpaku diam
Tak bergerak
Hanya angin yang mendesis

Waktu, hanyalah misteri
Yang manakala terlena terabaikan
Maka terperangahlah
Darah mengalir dari luka

Ah hegemoni
Puisi ini yang tak memiliki arti
Hanya goresan dari maka yang kosong
Maka kau lebih baik tak percaya

Ini hanya bualan
Yang tak berdasar
Asumsi yang tak berfakta
Dan kritikan yang tak berasas
Hanya sekedar berbicara

Maka bicaralah pada angin
Karna angin rela mendengarkan
Terkadang ia juga pergi
Mengucapkan sehelai kata dan hilang

Aku gamang pada ringkasan yang tak berujung
Padahal tak lebih dari sebuah hepotesis

Dimana kebenarnya hanya setengah dari kebohongannya

(Mawan Setiawan)